Saturday, 1 July 2017

Universities: Disruption Is Coming

by Jim Clifton

Do we need universities anymore? What if they ran out of customers?

Google announced it is hiring employees without college degrees, and Ernst & Young made a similar decision in the U.K. last fall. Both organizations see less value in a traditional college degree.

Are two of the most admired companies in the world wrong -- or ahead of their time?

The value of universities could be hitting a wall as fast as the value of libraries, newspapers and brick-and-mortar retail stores. Our need for learning and filling our brains with exactly the right information at just the right time is changing faster than American universities are.

Think about it: Which is more indispensable to you in your job -- your university education or the university you have in your pocket, your smartphone?

American universities need to change. The current $1.2 trillion in student loan debt is crushing graduates. Total student loan balances have tripled since 2003 and are the second-largest category of borrowing after mortgages. If major employers like Google and Ernst & Young see less need for a college degree, and if other big companies follow suit, then students are paying an exorbitant price for a product of decreasing value.

With our recent joint launch of a daily poll on higher education, Gallup and USA Funds are helping university leaders lead the change. Each day, 350 days a year, Gallup will conduct nationally representative interviews with approximately 500 U.S. adults about their higher education interests, experiences and outcomes. We will provide the first ever "voice of the customer" on the subject of higher education.

As William D. Hansen, USA Funds president and CEO, puts it, "This ongoing survey will allow us to track the progress toward and effectively identify strategies that promote what we call 'completion with a purpose' -- helping more students complete college prepared to launch rewarding careers."

Gallup's founder, the late Dr. George Gallup, once famously said, "If democracy is supposed to be based on the will of the people, someone should find out what that will is." His point was that when leaders are wrong about what the people want, and then use that wrong information to make decisions, things get worse. It's a point that applies to students and their education as much as it applies to any other part of our society.

The purpose of the new Gallup-USA Funds partnership is to report the will of the people on the subject of higher education. Now leaders of American education can be right instead of wrong about policies, strategies, premises and practices as colleges and universities go through massive transformational change.

Change is coming one way or another. Universities have to decide whether they want to lead the change or become the next victims of disruption.

Jim Clifton is Chairman and CEO at Gallup.

Sumber : http://www.gallup.com/opinion/chairman/191633/universities-disruption-coming.aspx

Monday, 20 March 2017

Knowledge Management System (KMS) untuk Mendukung Gerakan 'Merajut Kebersamaan dengan Pendidikan Berbasis Kewirausahaan Sosial'

Status : Draft

Pada sebuah diskusi di group WA adik-adik kelas 12 yang mengikuti, ada 'mimpi' kalau kita bercita-cita 5 tahun lagi memiliki restoran sendiri, Yumi adalah nama brand yang mereka pilih, yumi (dibaca yummy), selaras dengan nama Yayasan sekolah bernaung, Yayasan Al-Misbah Ulumul Al-Quran.

Dalam diskusi tersebut,  ternyata kita ada kebutuhan untuk mendapat data siapa saja yang memiliki usaha pembibitan tanaman, baik tanaman buah atau yang lainnya, serta bidang usaha lainnya yang ada di Desa. Banyak manfaat, dari database ini, salah satunya adalah, kita bisa membantu menjual produk-produk warga desa, menjadi reseller, selain menjual produk-produk kita sendiri ...

KMS Tematik 

KMS yg tematik, sepertinya lebih menarik, apalagi tematiknya itu berhubungan dengan sumber daya yg ada di sebuah daerah, jadi KMS untuk sekolah di Kabupatan A, tidak harus selalau sama dengan KMS di Sekolah di Kota B. Keunggulan suatu daerah, bisa dimulai dibaca dari anlisa SWOT Pemda tersebut.

.....

Referensi


  1. Proyek (Baca : Aktualiasi) Q.S Al-'Alaq 1-5, http://negeripelangi.org/id/blog/2012/02/26/proyek-al-alaq-1-5
  2. OS OCE - One School One Centre for Entrepreneurship, http://kewirausahaan.openthinklabs.com/2017/03/os-oce-one-school-one-centre-for-entrepreneurship.html
  3. Konsep Kewirausahaan dan Pendidikan Kewirausahaan di Sekolah, https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/06/29/konsep-kewirausahaan-dan-pendidikan-kewirausahaan/
  4. Moodle , https://github.com/OpenThink-Labs/moodle

Monday, 23 January 2017

Sunday, 8 January 2017

Arisan Kedaulatan Pangan

Status : Draft



Salah satu ide besar Gerakan Kedaulatan Pangan di sekolah adalah, agar setiap warga sekolah, baik siswa atau guru, dapat bercocok tanam dirumahnya, baik itu dengan metode aquaponik, hidroponik ataupun organik (produksi pupuk organik sendiri dengan komposter gentong [1]).

Salah satu tantangan Gerakan Kedaualatan Pangan di Sekolah, Pesantren adalah masalah pendanaan. Salah satu solusi yang dilirik adalah arisan, arisan ini sebenarnya sudah lama sekali, bahkan sejak abad ke sembilan hijriyah wanita-wanita di Arab Saudi sudah mengenal arisan yang dikenal dengan istilah jum’iyyah al-muwazhzhafin atau al-qardhu at-ta’awuni [2].

Terdapat perbedaan pendapat halal dan haramnya arisan ini, untuk lebih jelasnya dapat dibaca di [2]. 

Jika kita mengambil jalan arisan sebagai salah satu solusi pendanaan, maka yang harus diperhatikan adalah pengawasan agar tidak ada seorangpun yang mengikuti arisan ini dirugikan. 

Hitung-hitungan sederhana, jika di sekolah terdapat 400 siswa, dan iuran arisan adalah Rp. 2.000,- per siswa perhari, maka, setiap hari minimal kita dapat membuat modul hidroponik 24 lubang tanam [3].

Tentang dananya nanti ingin dibuat modul hidroponik, aquaponik ataupun komposter jika ingin memilih metode tanam organik, itu diserahkan kepada masing-masing warga sekolah. 

Ada masukan bagaimana agar ide ini  dapat dilaksanakan ? :) 

Referensi

Tuesday, 3 January 2017

Surat Seorang Kepala Sekolah di Singapura kepada Orang Tua Murid/Siswa

Kepada Para Orangtua,

Ujian anak Anda akan dimulai sebentar lagi. Saya tahu Anda cemas dan berharap anak Anda berhasil dalam ujiannya.

Tapi, mohon diingat, di tengah-tengah para pelajar yang akan menjalani ujian itu, ada calon seniman, yang tidak perlu mengerti Matematika.

Ada calon pengusaha, yang tidak butuh pelajaran Sejarah atau Sastra.

Ada calon musisi, yang nilai Kimia-nya tak akan berarti.

Ada calon olahragawan, yang lebih mementingkan fisik daripada Fisika... di sekolah.

Ada juga calon trainer dan motivator hebat yg lahir krn ditempa pengalaman di luar bangku sekolah

Sekiranya anak Anda lulus menjadi yang teratas, hebat! Tapi bila tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka.

Katakan saja: "tidak apa-apa, itu hanya sekedar ujian." Anak-anak itu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar lagi dalam hidup ini.

Katakan pada mereka, tidak penting berapapun nilai ujian mereka, Anda mencintai mereka dan tak akan menghakimi mereka.

Lakukanlah ini, dan di saat itu, lihatlah anak Anda menaklukkan dunia. Sebuah ujian atau nilai rendah takkan mencabut impian dan bakat mereka.

Dan mohon, berhentilah berpikir bahwa hanya dokter dan insinyur yang bahagia di dunia ini.

Hormat Saya
Kepala Sekolah
Share from another group..