Thursday, 24 November 2016

Sekolah itu Bukan Pabrik

Sekolah itu Bukan Pabrik

NOT A BUSINESS
By Jamie Robert Vollmer
Trans & Edited by GC – Nov 25, 2015


Pada hari itu Jamie mewakili kelompok pengusaha yg berdedikasi untuk meningkatkan kualitas sekolah umum di Amerika. Jamie sendiri adalah seorang eksekutif dari sebuah perusahaan es krim yang sangat terkenal.

Jamie begitu semangat memberikan pidatonya hingga 90 menit tdk terasa waktu pun lewat. Inti pengajarannya adalah bahwa bekerja di perusahaan itu sama dengan proses belajar & mengajar di sekolah.

Ketika ia sdg membereskan barang2nya sebelum meninggalkan kelas. Seorg guru bhs Inggris di sana menghampirinya.

Guru: “jadi perusahaan anda memproduksi es krim yang terbaik?”

Jamie: “Ya benar, terbaik di seluruh Amerika bu!”

G: “Wow Nice, apakah ia kaya rasa dan lembut?”

J: “16% Butterfat (artinya enak sekali & lembut sekali)”

G: “Bahan2nya premium?”

J: “Super-premium! AAA Category!”

G: “Mr. vollmer, ketika kamu sdg di gudang bahan baku & kamu menerima blueberries yg krg baik yg datang saat itu, apa yg akan kamu lakukan?”

Setelah berpikir sejenak, Jamie pun menjawab: “Tentu saja saya akan menolaknya.”

G: “Nah itulah bedanya dengan sekolah. Di sekolah kami hrs menerima yang besar, kecil, kaya, miskin, yg trampil, yg kasar, brilian, bodoh, yg autis, yg menderita penyakit jantung dll. Kita tdk dapat menolak mereka. Itulah Mr. Vollmer, mengapa kita tdk memanggilnya bisnis, melainkan Sekolah.”

Seketika itu juga Jamie mengalami transformasi, ia mengerti skrg bahwa sekolah bukanlah sebuah bisnis krn sekolah tdk dapat mengontrol supplai bahan bakunya. Namun tetap mrk hrs menghasilkan produk2 yg handal & sempurna.

Banyak org berpikir bhw sekolah itu adalah sebuah bisnis tanpa berpikir bhw sekolah sesungguhnya pelayanan yg luar biasa. Yg mampu mengubah hidup seseorang. Dari bahan baku berkarakter rendah, menjadi seseorang yang berkarakter berkualitas.

“Teachers can change lives with just the right mix of chalk and challenges.” Joyce Meyer

Selamat hari guru wahai para guru…

(Dari WA Group)

Wednesday, 21 September 2016

Pendidikan Berbasis Poros Maritim

Status : Draft

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang tersusun atas lebih dari 17.000 pulau, dirangkai oleh 95.181 km garis pantai (terpanjang kedua setelah Kanada), dan sekitar 70% wilayahnya berupa laut. Di wilayah pesisir dan laut itu terkandung beragam SDA (Sumber Daya Alam) dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. [3]

Pendidikan Dasar dan Menengah


Menurut [1], siswa/i lulusan SMK Pelayaran tidak dapat melanjutkan ke Akademi Pelayaran, sebaliknya, Siswa lulusan SMA dapat melanjutkan ke Akademi Pelayaran.

Di [2] disarankan harus memasukkan unsur kemaritiman sampai pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Tentu hal ini tidak perlu, setiap sekolah atau institusi pendidikan bisa fleksibel menentukan fokus mereka sesuai dengan potensi yang ada di sekitarnya, tema maritim perlu diperkenalkan, hanya porsinya disesuaikan. Tidak mungkinkan, tinggal di pegunungan, tapi meteri penuh dengan hal berbau maritim ?



Referensi

  1. Pendidikan Maritim Adalah Kunci Poros Maritim, http://jurnalmaritim.com/2015/02/a-lapian-pendidikan-maritim-adalah-kunci-poros-maritim/
  2. Peran Pendidikan dalam Perwujudan Visi Poros Maritim, http://www.pemudamaritim.com/2016/02/peran-pendidikan-dalam-perwujudan-visi.html
  3. Jalan Indonesia Menuju Poros Maritim Dunia, http://www.perumperindo.co.id/publikasi/artikel/170-jalan-indonesia-menuju-poros-maritim-dunia
  4. Poros Maritim dan Perkembangan Perekonomian Indonesia, http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/150-artikel-keuangan-umum/20555-poros-maritim-dan-perkembangan-perekonomian-indonesia

Sunday, 31 July 2016

Jalan Guru



Oleh: Iwan Pranoto
Kompas Cetak, 1 Agustus 2016

Bagi negara dengan mutu pengajaran di sekolah masih rendah, tak menguntungkan menceraikan perguruan tinggi dari pendidikan dasar dan menengah. Di zaman ini, perjalanan karier seorang guru—dari sebelum mengajar sampai saat mengajar—senantiasa berhubungan dengan perguruan tinggi.


Tersebutlah seorang profesor kimia yang tak senang saat mengetahui bagaimana cara anak kandungnya diajar kimia di sekolah. Maka, kemudian sang profesor minta bertemu dengan guru kimia anaknya tersebut untuk menegur dan hendak ”mengajari” bagaimana seharusnya mengajarkan kimia. Saat bertemu, sang profesor kaget karena ternyata guru kimia itu bekas mahasiswanya sendiri. Kejadian ini dikutip di laporan ”Educating Teachers of Science, Mathematics, and Technology” keluaran National Research Council, 2001.

Kisah ini, pertama, mengingatkan para dosen dan perguruan tinggi bahwa mahasiswanya ada yang akan menapaki jalan guru. Perlu disadari, tak semua mahasiswa di perguruan tinggi akan menjadi peneliti, rekayasawan, arkeolog, apoteker, pengacara, sejarawan, manajer, atau politisi. Sebagian insan menetapkan hati untuk menelusuri jalan guru saat ia studi di perguruan tinggi. Maka, semua perguruan tinggi, tanpa kecuali, bertanggung jawab dan berperan dalam merawat jalan guru. Terlebih karena saat ini institut keguruan dan ilmu pendidikan (IKIP) juga sudah tak ada lagi.

Kedua, pengajar perguruan tinggi berperan dan amat berdaya dalam menginspirasi mahasiswa untuk menjadi guru. Momen kegiatan akademik sarat perdebatan pemikiran mendalam serta argumen mencerahkan, semacam yang digambarkan di film Dead Poets Society, mengilustrasikan keindahan dan kenikmatan mengajar. Pengalaman intelektual macam ini kerap mengukir sukma mahasiswa dengan hasrat diri menapaki jalan guru.

Walau demikian, harus diakui bahwa banyak yang memilih jalan guru berdasar motivasi lebih rasional, seperti ekonomi. Akan tetapi, ada pula insan menapaki jalan guru karena alasan yang dianggap emosional dan romantis seperti di atas.

Ketiga, kejadian di atas mengingatkan para dosen untuk selalu memperbaiki pengajarannya. Gaya dosen mengajar akan dijadikan rujukan, model, dan dipertontonkan kembali secara berulang-ulang dalam pengajaran di sekolah. Oleh karena itu, khususnya para dosen pengampu mata kuliah di tahun pertama perlu memberi perhatian saksama tidak saja pada konsep apa yang dibelajarkan, tetapi juga pada bagaimana membelajarkannya.

Dengan kenyataan di atas, selain merancang kebijakan perekrutan guru, perguruan tinggi juga perlu memikirkan program studi lanjut bagi guru. Khususnya karena hari ini semua perguruan tinggi di dunia sedang ditantang membuat terobosan inovasi studi lanjut bagi guru.

Studi lanjut

Amatlah tak bijak anggapan bahwa perguruan tinggi tertentu tak perlu memedulikan pendidikan pra-universitas. Perlu dicatat, pengajaran yang bermakna di sekolah akan menjamin suburnya tunas ilmuwan, rekayasawan, sejarawan, dan lain sebagainya, di masa depan dan tentunya meneguhkan keberlanjutan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Perguruan tinggi papan atas dalam riset di AS, seperti Stanford, UCLA, Harvard, Rice, Illinois Urbana, dan UC Berkeley, juga mengelola program studi lanjut bagi guru. Oleh karena itu, menyedihkan jika hari ini masih saja ada yang mengedepankan dikotomi antara perguruan tinggi keguruan dan non-keguruan. Indonesia butuh banyak guru yang cakap, tak mungkin kebutuhan ini dipenuhi hanya oleh sebagian perguruan tinggi.

Hari ini sudah tersedia ragam program studi lanjut bagi guru yang ditawarkan perguruan tinggi, termasuk di Indonesia. Ada yang menekankan pada keilmuan serta pengajarannya secara mikro. Ada pula yang menekankan pada pengkajian isu pendidikan secara makro.

Pada program studi S-2 matematika bagi guru di ITB, misalnya, mahasiswa guru (mahasiswa yang merupakan guru) menelaah konsep matematika sekolah, tetapi menggunakan sudut pandang matematika lanjut. Para mahasiswa guru ini mendalami berbagai gagasan keilmuan di sekolah yang mungkin sebelumnya dianggap sepele, dengan sudut pandang yang canggih.

Mahasiswa guru akan menghargai kedahsyatan dan kegeniusan gagasan yang mereka belajarkan di kelas. Pendekatan seperti ini amat mungkin disalin dan diterapkan pada disiplin lain, seperti kewarganegaraan dan sejarah.

Demikian pula tugas atau proyek akhir di program seperti ini fokus pada analisis konten keilmuan secara spesifik dan mikro. Mahasiswa meneliti, antara lain, bagaimana murid sebagai individu mempelajari pemahaman spesifik tertentu.

Ada pula studi lanjut yang menekankan pada keterampilan meneliti isu pendidikan secara makro, seperti kurikulum, metode pengajaran tertentu, dan sebagainya. Bentuk tugas akhir di program studi seperti ini fokus pada penelitian kebijakan pendidikan. Di sini, mahasiswa guru belajar menjadi peneliti.

Ada pula sebuah inovasi program studi lanjut yang secara sistematis merangkaikan pemahaman konsep serta kemahiran mengajar. Setiap topik (bahan pengajaran sekolah) diajarkan dua kali, pada dua semester secara berurutan.

Pada semester pertama, mahasiswa mempelajari sebuah topik sebaik-baiknya dan berperan sebagai murid. Mahasiswa harus merasakan bagaimana belajar sampai memahami sebuah konsep sebagai murid. Kemudian, di semester selanjutnya, mahasiswa akan mempelajari konsep yang sama lagi, tetapi sekarang mereka akan mempelajarinya sebagai seorang guru. Mereka harus menelaah bagaimana mereka cipta pembelajaran agar murid berhasil mengalami proses belajar yang efektif dan belajar secara bermakna seperti yang dialaminya pada semester sebelumnya.

Inovasi dalam studi lanjut bagi guru menelurkan keberagaman pilihan pendidikan bagi guru. Seperti yang disampaikan dalam laporan Science Teachers Learning dari National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (2015: 215), studi lanjut mana yang lebih cocok bergantung pada tiap individu guru. Namun, yang jelas, berbagai inovasi studi lanjut bagi guru perlu terus didorong.

Rekomendasi

Bagi perguruan tinggi, dosen dapat secara sukarela sesekali menjadi guru tamu di sekolah sekitar perguruan tingginya. Ini tentu memberi pencerahan bagi murid, menjadi model pengajaran yang baik bagi guru, serta menambah pemahaman dosen pada permasalahan pengajaran di sekolah. Yang juga tak kalah penting, kegiatan seperti ini akan meningkatkan relevansi perguruan tinggi terhadap masyarakat di lingkungannya.

Bagi mahasiswa, perlu diresapi pernyataan Paus Fransiskus dalam siaran radionya pada 14 Maret 2015, yakni ”Mengajar itu profesi yang indah.” Jika memang diberkahi bakat mengajar, mengapa pula menolak jalan guru?

IWAN PRANOTO, GURU BESAR ITB SERTA ATASE PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DI KBRI NEW DELHI, INDIA

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Agustus 2016, di halaman 7 dengan judul "Jalan Guru".

Referensi


  1. When Finnish Teachers Work in America’s Public Schools, http://www.theatlantic.com/education/archive/2016/11/when-finnish-teachers-work-in-americas-public-schools/508685

3 Perkembangan Pendidikan Sains

Oleh : A Riza Wahono

Oleh : A Riza Wahono

Oleh : A Riza Wahono

Yang Penting Mental Bukan Gelarnya

Oleh : Prof Dermawan Wibisono (TI 84, dosen SBM ITB)


Saat mendapat beasiswa ke Australia 1995, mahasiswa Indonesia sempat diinapkan 3 malam di rumah penduduk di suatu perkampungan untuk meredam shock culture yang dihadapi.

Saya bersama dengan kawan dari Thailand menginap di Balarat, di peternakan seorang Ausie yang tinggal suami istri bersama dengan anak tunggalnya. Luas peternakannya kira-kira sekecamatan Arcamanik, dengan jumlah sapi dan dombanya, ratusan, yang pemliknya sendiri tak tahu secara pasti, karena tak pernah menghitungnya dan sulit memastikannya dengan eksak.

Suatu sore saya terlibat perbincangan dengan anak tunggalnya di pelataran rumah di musim panas yang panjang, di bulan Janauari 1995.

Aussie:"Why so many people form your country take a PhD and Master degree here?"

Saya:" Why not? your country give a grant, not loan, for us? so it is golden opportunity for us to get higher degree. Why you just finish your education at Diploma level, even it is free for Aussie to take higher degree?"

Aussie:" I don't need that degree, my goal is just to get a skill how to make our business broader. Now I am starting my own business in textile and convection, so I just need the technique to produce it, not to get any rubbish degree .."

Dua puluh tahun kemudian saya masih termenung, berusaha mencerna fenomena yang terjadi di negeri ini. Begitu banyak orang tergila-gila pada gelar doktor, profesor, sama seperti tahun 1970an ketika banyak orang tergila-gila pada gelar ningrat RM, RP, GKRH.

Dan tentu orang yang berusaha mendapatkan gelar itu tak terlalu paham dengan substansi yang dikandung dalam gelar yang diisandang. Pernah dengan iseng kutanyakan kepada supervisorku di Inggris sana, saat mengambil PhD:

" Why don't you take a professor?" tanya saya lugu kepada supervisorku yanng belum profesor padahal Doktornya cumlaude dan sudah membimbing 10 doktor baru.

Dengan serta merta ditariknya tangan kanan saya. Ditatapnya mata saya tajam-tajam. "Look," katanya dengan muka serius: "..Professor is not a status symbol or level in expertise, but professor is mentality, is a spirit, is a way of life, is a wisdom, so get it, is just the matter of time if you have ready for all requirements... But have you ready with the consequence of it?"

Dan profesor saya lebih cepat, saya dapatkan dari pembimbing saya yang arif dan bijaksana itu.

Merenungi dua kejadian itu, semakin saya sadari, bahwa Indonesia memiliki segala sumber daya untuk maju, tapi mentality lah yang menjadi kendala utama.

Social sciences dan social behaviour menjadi hal terpenting dalam study yang harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan IQ, EQ dan SQ yang tinggi. Dan celakanya, sudah lama kadung diyakini di sini bahwa ilmu eksakta lebih sulit dari pada non exacta. Dan persyaratan masuk jurusan non exacta yang di Australia butuh IELTS 7.5 dibandingkan dengan engineering yang hanya butuh 6.0, berbanding terbalik dengan yang diterapkan di sini. Akibatnya, negara menjadi amburadul karena yang banyak mengatur negara dan pemerintahan bukanlah orang yang memilki kemampuan untuk itu.

Dari mana mesti mulai membenahi hal ini?

Pendidikan dasar dan Pendidikan Tinggi. Seperti Finlandia yang pendidikannya termasuk terbaik di dunia. Guru-guru di sana merupakan profesi terhormat dengan pemenuhan kebutuhan diri yang mencukupi. Jadi guru didapatkan dari the best of class dari level pendidikan yang ditempuh. Sehingga penduduk Finlandia sudah hampir 100% memiliki degree Master. Bukan didapatkan dari pilihan kedua, pilihan ketiga, atau daripada tidak bekerja.

Melihat acara Kick Andy beberapa hari lalu: Nelson Tansu dan Basuki, sebagai tamu undangan, adalah contoh konkrit, dua orang expert Indonesia yang qualified yang bekerja di negara USA dan Swedia, dan mereka tergabung dalam 800 orang expert Indonesia yang diakui di luar negeri dan bekerja di luar negeri. Artinya Indonesia bisa, Indonesia memiliki kemampuan. Yang menjadi masalah adalah how to manage them in Indonesia environment? How we arrange them, how to make synergy between government, industry, university to bring Indonesia together to be world class?

Melihat management pemerintahan yang amburadul? Tidak usah susah-susah menganalisis dengan integral lipat tiga segala. Lihat saja satu spek sederhana: gaji Presiden yang 62.5 juta dan gaji menteri yang 32.5 juta dibandingkan dengan gaji direktur BUMN dan lembaga keuangan yang mencapai lebih dari 100 juta per bulan, itu sudah kasat mata, bahwa menentukan gaji saja sudah tidak memperhatikan: range of responsibility, authority, impact to the Indonesia society, dan sebagainya, apalagi menentukan yang lain. Semua asal copy paste dari luar tanpa melihat esensi yang dikandungnya.

Aku termenung, mengingat pembicaranku dengan ayahanda saat kelulusanku dulu 26 tahun yang lalu. Kepada beliau kuutarakan niatku untuk merantau ke luar negeri, dan apa jawab beliau:"Tidak usah pergi, kalau semua anak Indonesia yang pintar ke luar negeri, siapa nanti yang akan mendidik orang Indonesa sendiri?"

Dan kini aku tergulung dalam idealisme, aktualisasi diri, dan kepatuhanku kepada orang tua.

Hal yang paling kutakuti dalam hidup adalah jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak sidiq, amanah, tabliq, fathonah. Dan terutama dipimpin oleh orang yang tidak lebih pandai, sehingga semuanya jadi kacau. Dan kekacauan terjadi di mana-mana, dalam berbagai level.

Wallahu alam bisawab

renungan dan kegusaran seorang prof ITB (forwarded by : Ns. Arif Rohman Mansur, M.Kep PSIK STIKes Madani Yogyakarta) Prepare Nurse Ready Work In Middle East)

Friday, 29 July 2016

Percikan Inspirasi : Beberapa Hal Utama yang Idealnya Diajarkan Di Sekolah

Sebenarnya ada beberapa hal saja yg paling utama diajarkan di "sekolah", tauhid, adab, akhlak, cara mensterilisasi air minum, memproduksi bahan pangan dan energi sendiri... yang lainnya bisa dimasukkan ke "pilihan"