Sunday, 8 January 2017

Arisan Kedaulatan Pangan

Status : Draft



Salah satu ide besar Gerakan Kedaulatan Pangan di sekolah adalah, agar setiap warga sekolah, baik siswa atau guru, dapat bercocok tanam dirumahnya, baik itu dengan metode aquaponik, hidroponik ataupun organik (produksi pupuk organik sendiri dengan komposter gentong [1]).

Salah satu tantangan Gerakan Kedaualatan Pangan di Sekolah, Pesantren adalah masalah pendanaan. Salah satu solusi yang dilirik adalah arisan, arisan ini sebenarnya sudah lama sekali, bahkan sejak abad ke sembilan hijriyah wanita-wanita di Arab Saudi sudah mengenal arisan yang dikenal dengan istilah jum’iyyah al-muwazhzhafin atau al-qardhu at-ta’awuni [2].

Terdapat perbedaan pendapat halal dan haramnya arisan ini, untuk lebih jelasnya dapat dibaca di [2]. 

Jika kita mengambil jalan arisan sebagai salah satu solusi pendanaan, maka yang harus diperhatikan adalah pengawasan agar tidak ada seorangpun yang mengikuti arisan ini dirugikan. 

Hitung-hitungan sederhana, jika di sekolah terdapat 400 siswa, dan iuran arisan adalah Rp. 2.000,- per siswa perhari, maka, setiap hari minimal kita dapat membuat modul hidroponik 24 lubang tanam [3].

Tentang dananya nanti ingin dibuat modul hidroponik, aquaponik ataupun komposter jika ingin memilih metode tanam organik, itu diserahkan kepada masing-masing warga sekolah. 

Ada masukan bagaimana agar ide ini  dapat dilaksanakan ? :) 

Referensi

Tuesday, 3 January 2017

Surat Seorang Kepala Sekolah di Singapura kepada Orang Tua Murid/Siswa

Kepada Para Orangtua,

Ujian anak Anda akan dimulai sebentar lagi. Saya tahu Anda cemas dan berharap anak Anda berhasil dalam ujiannya.

Tapi, mohon diingat, di tengah-tengah para pelajar yang akan menjalani ujian itu, ada calon seniman, yang tidak perlu mengerti Matematika.

Ada calon pengusaha, yang tidak butuh pelajaran Sejarah atau Sastra.

Ada calon musisi, yang nilai Kimia-nya tak akan berarti.

Ada calon olahragawan, yang lebih mementingkan fisik daripada Fisika... di sekolah.

Ada juga calon trainer dan motivator hebat yg lahir krn ditempa pengalaman di luar bangku sekolah

Sekiranya anak Anda lulus menjadi yang teratas, hebat! Tapi bila tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka.

Katakan saja: "tidak apa-apa, itu hanya sekedar ujian." Anak-anak itu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar lagi dalam hidup ini.

Katakan pada mereka, tidak penting berapapun nilai ujian mereka, Anda mencintai mereka dan tak akan menghakimi mereka.

Lakukanlah ini, dan di saat itu, lihatlah anak Anda menaklukkan dunia. Sebuah ujian atau nilai rendah takkan mencabut impian dan bakat mereka.

Dan mohon, berhentilah berpikir bahwa hanya dokter dan insinyur yang bahagia di dunia ini.

Hormat Saya
Kepala Sekolah
Share from another group..

Sunday, 18 December 2016

INAP (Indonesian National Assessment Programme)

Oleh : Pak Heru Widiatmo

Catatan : Tulisan ini ditambil dari status media sosial Pak Heru Widiatmo [1]

Saya mendapat WA dari Atase Pendidikan KBRI di Washington, DC (BpIsmunandar Ismu), dan diminta memberi komentar tentang hasil INAP (http://puspendik.kemdikbud.go.id/inap-sd). Menarik membandingkan kompetensi Math, Membaca, dan Sains tingkat Nasional atau antar Provinsi serta pengelompokannya (Kurang, Cukup, dan Baik). Sayang, saya tdk mendapatkan banyak informasi dari link tersebut, seperti jumlah siswa (kecuali presentasi) dan cut scores untuk masing2 kelompok.

Graph di bawah menunjukan perbandingan tiga kompetensi di tingkat nasional. Dibandingkan dgn UN, INAP memberikan informasi lebih akurat kondisi/mutu pendidikan di Indonesia. Sekitar 77%, 47%, dan 74% siswa Indonesia berada pada kelompok Kurang masing2 untuk Math, Membaca, dan Sains. Dengan kata lain, 1 dari 2 siswa mempunyai kemampuan membaca cukup atau baik, sedangkan hanya 1 diantara 4 siswa memiliki kemampuan memadai di Math atau Sains. Perbedaan hasil yg cukup besar antara Membaca dan dua lainnya, saya duga karena tdk ada penyetaraan skala di tiga kompetensi itu dan beda tingkat kesukaran soal2nya tinggi. Bisa jadi, soal2 Membaca jauh lebih mudah dari soal2 Math dan Sains.



Seharusnya, perbedaan tersebut tidak terlalu besar, jika alat ukurnya setara. Sebagai pembanding, saya ambil hasil PISA 2015. Walaupun beda tingkat/usia yg diujikan antara INAP dan PISA serta beda komponen (persentasi di INAP vs rerata di PISA), saya yakin bukan factor penting. Di PISA 2015, rerata siswa Indonesia memperoleh 386, 397, dan 403 masing2 untuk ketiga kompetensi tersebut. Sebagai informasi PISA mengunakan skala 200 sd 800. Dgn skala 0 sd 100, skor tersebut menjadi sekitar 31, 33, dan 34. Atau klw dipresentasikan menjadi, 31%, 33%, dan 34%. Perbedaanya tdk lebih dari 3 points.

Kesimpulan. Walaupun sdh lebih baik dari UN, pengukuran INAP masih kurang akurat. Ini bisa dilihat dari perbandingan INAP dan PISA. Di PISA Sains paling tinggi (walaupun hannya 1 point dari Membaca), sedangkan di INAP Membaca jauh di atas Sains.

Referensi 

Thursday, 24 November 2016

Sekolah itu Bukan Pabrik

Sekolah itu Bukan Pabrik

NOT A BUSINESS
By Jamie Robert Vollmer
Trans & Edited by GC – Nov 25, 2015


Pada hari itu Jamie mewakili kelompok pengusaha yg berdedikasi untuk meningkatkan kualitas sekolah umum di Amerika. Jamie sendiri adalah seorang eksekutif dari sebuah perusahaan es krim yang sangat terkenal.

Jamie begitu semangat memberikan pidatonya hingga 90 menit tdk terasa waktu pun lewat. Inti pengajarannya adalah bahwa bekerja di perusahaan itu sama dengan proses belajar & mengajar di sekolah.

Ketika ia sdg membereskan barang2nya sebelum meninggalkan kelas. Seorg guru bhs Inggris di sana menghampirinya.

Guru: “jadi perusahaan anda memproduksi es krim yang terbaik?”

Jamie: “Ya benar, terbaik di seluruh Amerika bu!”

G: “Wow Nice, apakah ia kaya rasa dan lembut?”

J: “16% Butterfat (artinya enak sekali & lembut sekali)”

G: “Bahan2nya premium?”

J: “Super-premium! AAA Category!”

G: “Mr. vollmer, ketika kamu sdg di gudang bahan baku & kamu menerima blueberries yg krg baik yg datang saat itu, apa yg akan kamu lakukan?”

Setelah berpikir sejenak, Jamie pun menjawab: “Tentu saja saya akan menolaknya.”

G: “Nah itulah bedanya dengan sekolah. Di sekolah kami hrs menerima yang besar, kecil, kaya, miskin, yg trampil, yg kasar, brilian, bodoh, yg autis, yg menderita penyakit jantung dll. Kita tdk dapat menolak mereka. Itulah Mr. Vollmer, mengapa kita tdk memanggilnya bisnis, melainkan Sekolah.”

Seketika itu juga Jamie mengalami transformasi, ia mengerti skrg bahwa sekolah bukanlah sebuah bisnis krn sekolah tdk dapat mengontrol supplai bahan bakunya. Namun tetap mrk hrs menghasilkan produk2 yg handal & sempurna.

Banyak org berpikir bhw sekolah itu adalah sebuah bisnis tanpa berpikir bhw sekolah sesungguhnya pelayanan yg luar biasa. Yg mampu mengubah hidup seseorang. Dari bahan baku berkarakter rendah, menjadi seseorang yang berkarakter berkualitas.

“Teachers can change lives with just the right mix of chalk and challenges.” Joyce Meyer

Selamat hari guru wahai para guru…

(Dari WA Group)

Wednesday, 21 September 2016

Pendidikan Berbasis Poros Maritim

Status : Draft

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang tersusun atas lebih dari 17.000 pulau, dirangkai oleh 95.181 km garis pantai (terpanjang kedua setelah Kanada), dan sekitar 70% wilayahnya berupa laut. Di wilayah pesisir dan laut itu terkandung beragam SDA (Sumber Daya Alam) dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. [3]

Pendidikan Dasar dan Menengah


Menurut [1], siswa/i lulusan SMK Pelayaran tidak dapat melanjutkan ke Akademi Pelayaran, sebaliknya, Siswa lulusan SMA dapat melanjutkan ke Akademi Pelayaran.

Di [2] disarankan harus memasukkan unsur kemaritiman sampai pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Tentu hal ini tidak perlu, setiap sekolah atau institusi pendidikan bisa fleksibel menentukan fokus mereka sesuai dengan potensi yang ada di sekitarnya, tema maritim perlu diperkenalkan, hanya porsinya disesuaikan. Tidak mungkinkan, tinggal di pegunungan, tapi meteri penuh dengan hal berbau maritim ?



Referensi

  1. Pendidikan Maritim Adalah Kunci Poros Maritim, http://jurnalmaritim.com/2015/02/a-lapian-pendidikan-maritim-adalah-kunci-poros-maritim/
  2. Peran Pendidikan dalam Perwujudan Visi Poros Maritim, http://www.pemudamaritim.com/2016/02/peran-pendidikan-dalam-perwujudan-visi.html
  3. Jalan Indonesia Menuju Poros Maritim Dunia, http://www.perumperindo.co.id/publikasi/artikel/170-jalan-indonesia-menuju-poros-maritim-dunia
  4. Poros Maritim dan Perkembangan Perekonomian Indonesia, http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/150-artikel-keuangan-umum/20555-poros-maritim-dan-perkembangan-perekonomian-indonesia