Friday, 26 January 2018

Tradisi Riset Para Pemimpi



Ferial Ramli dari grup FB Kagama

Universitas di Indonesia jadi tradisi Universitas Riset itu masih mimpi siang bolong. Jadi, kalau UGM, ITB dan UI bilang mereka buat Riset Mobil Listrik, buat Riset Robot Artificial Intelligent, buat Riset Reaksi Fusi dingin, buat Riset Nano Teknologi, buat Riset Stem Sel dll, dll, lalu bilang nanti Indonesia akan kuasai teknologi tersebut maka ketawa aja anda. Itu untuk mimpi siang bolong aja masih NDAK feasible kok.

(Please jangan langsung nuduh aku sinis ndak nasionalis. Aku cuma ingin menempatkan hal-hal bombastis sesuai dengan proposinya  )

Bukan, bukan itu hasil yang jelek. Tidak, tidak sama sekali jelek. Itu harus dilakukan biar para ilmuawan kita tidak tergagap-gagap betul dengan teknologi terbaru. Jadi, perbuatan ilmuwan dari UGM, ITB atau UI itu sudah benar. Hanya jangan sekali-sekali anda berpikir mereka akan bisa mengimplemtasikannya untuk solusi di masyarakat. Masih jaaaauuuuuhhhhhhh sekali untuk mencapai itu semua.

Itu semua baru level demontrasi atau MOCKUP belaka, TIDAK akan lebih dari itu!

Kok bisa? Iya tentu saja bisa. Lha wong ada pattern logisnya kok untuk memahami sebuah negara itu bisa membuat riset-riset inovatif yang mensejahterakan masyarakatnya.

Tulisan ini kubagi dalam 2:


  1. Studi Kasus Negara-Negara lain tentang Pembiayaan Dana Riset
  2. Proses Bagaimana Negara-Negara lain membangun tradisi riset

1. Studi Kasus Negara-Negara Maju tentang Pelaku Riset


Ada 3 Pattern yang bisa kita lihat:

1. Amrik dan Anglo Saxon

Riset dilakukan oleh Universitasnya. Jadilah Universitasnya digelontorkan dana berlimpah. Dikarenakan negara kaya maka mereka cukup banyak bisa menggelontorkan uangnya.

Bagaimana cara mendapatkan dananya? Yah dengan APBN Negara tersebut plus dengan Donasi Dana Abadinya dari para bilantropi. Dikarenakan tidak semua Universitas berhasil membangun dana abadi dari para bilantropi, dan dikarenakan negara dananya cuma terbatas maka hanya sedikit Universitas yang bisa maju.

Di Amerika yah paling itu-itu aja yang hebat: Havard, MIT, Caltech, Princeton, Yale, Colombia, Cornell, Stanford, Chicago, itu semua swasta. Yang negeri paling yang top UCLA, UCB dan U Michigan ann Arbor.

Di Inggris paling: Oxbridge (Oxford dan Cambridge) dan beberapa Universitas di bawah payung The Federal University of London, model UCL atau Imperial College.

Alasannya logis: Negara (meskipun sehebat Amrik atau UK) tidak sanggup men-support riset Uni besar-besaran, serta tidak semua Uni mampu membangun dana abadi dari para bilantropi atau CSR Industri.

2. German Speaking Countries, Benelux, Skandinavia

(Mohon maaf aku tidak begitu tahu tentang Perancis)

Riset itu dilakukan oleh Universitas karena pesanan dari Industrinya untuk melakukan inovasi. Jadi, industri keluarkan biaya besar-besar agar melakukan riset-riset inovasi. Industri dan Universitas itu ibarat senyawa yang saling tolong menolong.

Jangan kaget jika Phillip Group mau mengeluarkan dana besar-besar untuk membangun High Tech Campus Eindhoven (HTCE) men-support risetnya dengan TU Eindhoven. Jangan kaget riset-riset BMW Group itu dilakukan di TU München dan universitas aliansinya yang jumlahnya puluhan. Jangan kaget riset-riset Airbus itu dilakukan di RWTH Aachen dan universitas aliansinya yang jumlahnya puluhan.

Jangan kaget SAP AG Standard Software Market Leader Jerman itu menggelontorkan jutaan euro ke jejaringan SAP University Alliance agar bisa inovasi-inovasi baru yang hasilnya seperti Platform NetWeaver serta yang terbaru Database HANA. Jangan kaget riset-riset industri Swiss itu dilakukan di ETH Zurich.

Seperti itulah mereka membangun risetnya.

3. Jepang

Di Jepang riset dilakukan di perusahaan itu sendiri. Di Universitas memang ada riset tapi aktivitas risetnya lebih banyak pada perusahaan masing-masing. Mereka punya dana besar untuk riset karena perusahaan-perusahaan Jepang seringkali berbentuk Konglomerasi yang dikenal Keiretsu.

Para Keiretsu atau Konglomerasi Jepang model Tokai, Mitsubishi, Mitsui, Sumitomo, dll ini lah yang melakukan riset di perusahaannya dengan dana tak terbatas. Lalu perusahaan-perusahaan mereka melahirkan produk yang inovatif dan amat berkualitas.



JADI, meskipun tidak rigid sekali tetap ada “trade-off” dan “cross section”-nya dikarenakan ini bukan pengkotak-kotakan tapi tetap kita bisa katakan:


# Riset di sistem Anglo Saxon filosofisnya Universitas itu Center of Excellent. Riset inovasi itu dilakukan di Universitas. Ini juga yang membuat rangking perguruan tinggi Univ USA/UK amat baik versi rangking THE & QS yang notabene cara nilai rangking risetnya berbasis versi Anglo-Saxon menilai.

# Riset di North Continental Europe filosofisnya adalah Linkage Industry. Dimana Univeristas melakukan riset bersama-sama dengan industri.

Ini juga sebabnya rangking Universitas Eropa tidak setinggi Universitas Anglo-Saxon, dikarenakan “Kredit” hasil risetnya dibagi antara Universitas dengan Perusahaan. Yang dengan perusahaan terikat NDA (Non Disclosure Agreement) dan tidak boleh dipublish.

# Riset di Jepang filosofisnya dilakukan di Industri oleh para Keiretsu. Itu sebabnya industri-industri Jepang amat inovatif. Hanya rangking universitasnya kalah dengan Eropa Kontinental apalagi Anglo Saxon. Cuma Tokyo Daigaku dan Kyoto Daigaku yang bisa bersuara.

2. Proses Bagaimana Negara-Negara lain membangun tradisi riset


Proses riset itu ada banyak tipe:


  1. Riset inovatif seperti Plasma Nuftah, Nano Teknologi, Reaksi Fusi, AI bahkan mobil listrik merupakan riset lompatan. Ini berbiaya amat tinggi serta butuh kolaborasi tim yang hebat, harus ada enviroment yang layak buat para periset dan harus bisa berlangsung lama dengan pembiayaan tanpa henti.

    Riset-riset seperti ini bukan riset tambal sulam tapi harus punya grand design yang benar serta harus bisa melibatkan Pemerintah, Universitas/Lembaga Studi dan Industri. Tanpa pelibatan ini maka ndak akan bisa dilakukan.

    Paling bisanya level Mock-Up belaka seperti yang dilakukan UGM, ITB dan UI saat ini 
  2. Riset ATM: Amati, Tiru dan Modifikasi
    Riset ini adalah mengamati hasil riset yang sudah mature di industri tapi marketnya masih besar, lalu segera ditiru cara buatnya, kemudian jika sudah jago maka lakukan riset-riset untuk modifikasinya.

    Jadilah terbentuk produk turunan yang punya nilai tambah modifikasi lalu jual ke pasar!

    Jepang, Korea dan disusul Cina untuk mengejar ketertinggalannya dari Eropa dan Amerika pakai strategi ini industrinya dulu kala. Begitu sudah punya uang baru mereka lakukan riset lompatan inovasi.
  3. Riset Teknologi Terapan Serba Guna (TTSB)

    Riset bersifat applied yang langsung bisa dimanfaatkan oleh user/stakeholder atau masyarakat.

    India pakai strategi ini memulainya. Dia temukan apa yang dibutuhkan lalu dia kembangkan pusat-pusat inovasi teknologi tepat guna dengan branding: “Make in India”.

    Pokoknya buat aliansi dengan negara maju agar riset asembly negara maju dilakukan di India sehingga India bisa melakukan pabrikasinya. 
Bagaimana dengan strategi riset Indonesia.

  1. Sudah pastilah kita ndak akan sanggup saat ini dengan riset inovasi. Duite seko endi? Negara ra duwe duwit, industri level asembly. Jadi, klo UGM, UI atau ITB pamer riset inovasi maka itu baru level MOCKUP belaka. Sunahtullah-nya kita belum bisa. 
  2. Nah, riset Indonesia itu kerja sama Universitas dan Industri (Cara Eropa Utara) dengan dana dari pemerintah dan industri.

    Klo pakai Cara Jepang, industri kita level asembly jadi tidak punya SDM cukup, cara Anglo-Saxon Univeritas kita ndak punya uang. 
  3. Riset yang dilakukan fokus di 2 hal dulu yaitu ATM dan TTSB. Lupakan dulu riset inovasi, yah cuma untuk gula-gula aja.  Sudah fokus di ATM dan TTSB aja! Ndak usah gaya-gaya dulu dengan riset inovatif 
  4. Bidang apa yang perlu diriset? Ikuti gaya Jepang, Korea, Cina, India dan Thailand aja.  Mereka maju dengan cara riset ATM & TTSB pada bidang ini: Industri Otomotif, Industri Elektronika, Industri ICT dan Industri Pangan. Boleh lah industri obat-obat Kedokteran Tropis!  Sudah fokus disana dan buat Keiretsu-Keiretsu atau Chaebol-Chaebol Tangguh ala Indonesia yang bukan hasil KKN tapi memang hasil dari Riset ATM dan TTSB 
  5. Baru kalau industri kita sudah mulai kuasai pasar Otomotif Nasional, Elektronika Nasional, Pangan Nasional, Obat-Obatan Kedokteran Tropis Nasional, nah saat itu kita kelimpahan cash flow. Kita bisa bicara tentang lompatan riset inovatif! 

#dariTepianLembahSungaiElbe
Sumber : WAG Kedaulatan Pangan & Energi 

Wednesday, 29 November 2017

Enam "Dosa" Sekolah Modern



Nyaris tak banyak orang yang bertanya, untuk apa sesungguhnya menyekolahkan anak kita? Mestinya agar anak kita siap lahir dan bathin menghadapi realita hidup yang berubah sangat cepat. Tetapi kenyataannya sejak ratusan tahun, praktek proses belajar di sekolah tidak banyak berubah.

Faktanya, 4 pemimpin dunia bersepakat merancang pendidikan untuk menjawab kebutuhan industri, utamanya berperan mencetak pekerja (baca; buruh) pabrik. Penekanan proses di sekolah agar tumbuh kembang mentalitas industrial yakni dalam rangka membangun produksi massa dan kontrol massa. Hal ini menjadi orientasi serta prioritas di sekolah. Seth Godin seorang penulis sekaligus pebisnis berpendapat bahwa tujuan utama sistem pendidikan adalah melatih orang agar mau bekerja di pabrik. Ken Robinson seorang penulis dan pemerhati pendidikan berpendapat, bahwa pendidikan memang dirancang atas kepentingan zaman industri, maka dari itu otomatis mencerminkan sebagai berikut:

Satu: Nilai-nilai zaman industri

Sekolah mendidik siswa dengan menggunakan labeling, dan mengatur kehidupan mereka dengan membunyikan bel—Sepanjang hari agar siswa tidak melakukan tindakan apapun kecuali harus mengikuti instruksi, yakni duduk, perintah keluarkan buku, siswa diminta membuka buku halaman sekian, kerjakan soal nomor sekian. Siswa dilarang berbicara. Di sekolah, siswa dinilai berdasarkan apa yang diinstruksikan guru. Hal seperti itulah, merupakan nilai-nilai industrial yang penting bagi para pekerja pabrik. Kesuksesan mereka ditentukan oleh ketaatan mengikuti instruksi dan melakukan tepat apa yang dikatakan pada mereka. Tetapi saat ini, sejauh mana siswa akan berhasil jika hanya mengikuti instruksi? Padahal dunia modern konon sangat menghargai orang yang kreatif, yang mampu mengomunikasikan ide-ide, dan bekerja sama dengan orang lain. Tetapi siswa, anak-anak kita kenyataannya tidak punya memiliki peluang, kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan itu dalam sistem yang berdasarkan nilai-nilai yang diproduksi oleh zaman industrial.

Dua: Kehilangan otonomi dan kontrol

Di sekolah, siswa kehilangan otonomi dan kontrol. Setiap menit dalam hidup mereka di sekolah, dikontrol ketat oleh peraturan. Padahal di kehidupan dunia nyata saat ini, jika siswa memilih mengerjakan suatu pekerjaan penting, maka seharusnya para siswa dapat mengatur waktu sendiri. Para siswa dapat mengambil keputusan sendiri apa yang harus dilakukan dan kapan. Tetapi sekolah sangat berbeda. Sekolah menyampaikan pesan yang sangat berbahaya bahwa mereka tidak berkuasa atas hidupnya sendiri. Mereka hanya menjalankan apa yang telah tertulis, bukannya memberi kesempatan kepada siswa untuk mengatur sendiri kehidupan mereka dan memaksimalkan potensinya. Padahal para ahli yakin bahwa otonomi sangat penting bagi siswa. Tidak heran siswa mengalami kebosanan dan sangat tidak termotivasi di sekolah. Bisa Anda bayangkan jika Anda terus-menerus diberitahu apa yang harus dilakukan di setiap menit hidupmu. Pink seorang penulis buku tentang perilaku, menulis : Otonomi adalah kebutuhan psikologis bawaan—juga Peter Gray seorang psikolog : Anak-anak tidak suka sekolah karena mereka merasa tidak bebas di sekolah.

Tiga: Pembelajaran yang tidak otentik

Kebanyakan apa yang dijalankan di sekolah saat ini tidak otentik karena bergantung pada hafalan dan panutan. Sistem yang dibangun menghasilkan seperangkat pengetahuan umum yang harus diketahui oleh setiap anak. Kemudian setiap berapa bulan hafalan mereka diukur dengan ujian. Kita semua tahu cara tersebut sama sekali sangat tidak otentik karena pasti sudah hilang setelah ujian. Belajar bisa jauh lebih mendalam dan otentik, lebih dari sekadar menghafal dan mengingat. Tapi hanya itu yang kita ukur dan nilai ujian adalah satu-satunya yang dinilai. Ini sangat jelas hanya menciptakan budaya yang sangat tidak sehat antara siswa, orang tua dan guru. Siswa menghadapi situasi yang tidak mengenakkan, di rumah menghafalkan sampai larut malam fakta-fakta tidak penting yang akan sangat cepat dilupakan.

Empat: Tak ada tempat untuk passion dan minat

Kita punya sistem yang sangat standard di mana siswa belajar pada waktu yang sama, tempat yang sama, dan cara yang sama. Ini tidak menghargai fakta dasar sebagai manusia, yang unik dan berbeda satu sama lain. Kita semua memiliki passion dan minat yang masing-masing. Dan kunci pemenuhan hidup adalah menemukan passion masing-masing siswa. Namun apakah sekolah saat ini mendukung siswa menemukan dan mengembangkan passionnya? Tampaknya tak ada ruang di sekolah saat ini yang mendukung siswanya menjawab pertanyaan-pertanyaan penting dalam hidup mereka.

Apa keahlianku?

Apa yang ingin kulakukan dalam hidup?

Bagaimana aku masuk dalam dunia ini?

Sistem pendidikan tampaknya sangat acuh, tidak terlalu peduli. Ada begitu banyak orang hebat yang gagal di sekolah tradisional. Untungnya mereka berhasil mengatasi kegagalan tersebut. Tapi tak semuanya bisa. Kita tidak bisa mengukur betapa banyaknya bakat dan potensi yang tidak terdeteksi dalam sistem saat ini.

Winston Churchill : Nilai rata-ratanya C di sekolah.

Steven Spielberg : tidak naik kelas 6.

John Lennon : dianggap tidak punya harapan dan dianggap badut kelas.

Albert Einstein : dikeluarkan dari sekolah karena suka melawan.

Lima: Perbedaan cara belajar

Masing-masing orang memiliki perbedaan gaya belajar sendiri. Berapa banyak waktu yang kita butuhkan untuk belajar, media atau sumber daya apa yang paling sesuai untuk kita. Tetapi sistem tidak punya ruang untuk perbedaan ini. Jadi jika siswa sedikit lambat mempelajari sesuatu, maka siswa akan dianggap gagal. Padahal yang kita perlukan adalah sedikit waktu untuk mengejar.

Enam: Menceramahi

Dalam sistem sekolah yang ada saat ini, anak diceramahi lebih dari 5 jam sehari. Tapi ada masalah dalam metode ceramah. Sal Khan dari Khan Academy menyebut bahwa ceramah adalah pengalaman mendasar yang mengakibatkan penghilangan kemanusiaan (dehumanisasi). Tiga puluh siswa tidak boleh berbicara satu sama lain. Dalam satu kelas terdapat beberapa siswa dengan level pemahaman yang berbeda-beda. Dan guru tidak memedulikan siswa yang bosan karena sudah lebih maju, atau yang bingung karena tertinggal. Karena internet dan media digital, siswa mampu mendapatkan semua informasi dari seluruh dunia di ujung jari mereka. Teknologi memungkinkan siapa saja untuk mempelajari apa saja. Tetapi karena takut tidak bisa mengontrol, sistem ini tidak memanfaatkan sumber daya luar biasa ini.

Semua sistem pendidikan yang berbasis pada zaman industrialisasi telah ketinggalan zaman dan tidak efektif, jika kita hendak menyiapkan anak-anak kita di dunia modern, jika kita ingin kegiatan belajar lebih efektif dan menarik, maka kita harus mengubah sistem pendidikan kita secara fundamental. ***

Diterjemahkan bebas oleh Tita, relawan SALAM dari Great Big Mind-6 Problems With ModernSchooling System

Sumber : https://www.salamyogyakarta.com/enam-permasalahan-sistem-sekolah-modern/

Thursday, 5 October 2017

Kantor Penerimaan Mahasiswa Baru sebagai Salah Satu Kunci Keberhasilan Sebuah Pendidikan Tinggi

Status : Draft


Kantor Penerimaan Mahasiswa Baru, bekerjasama dengan seluruh Fakultas atau Program Studi yang ada di Perguruan Tingginya, untuk melakukan pembinaan kepada sekolah-sekolah, metode pembinaaan secara online bisa dimaksimalkan, sebagai permulaan, bisa dengan mengambil 1 sekolah di setiap Ibukota kecamatan, misalnya. Pembimbingannya, dimulai dari kelas 10 dan berkelanjutan sampai kelas 12.

Materinya ?

Materinya, tentu bukan drilling soal-soal, latihan soal-soal masuk perguruan tinggi, tapi pendekatannya lebih tematik, apa saja tantangan yang sedang dan akan dihadapi oleh negeri ini, apa yang harus dilakukan, dipelajari untuk menyelesaikan tantangan ini,  bisa dimulai dengan lingkungan yang lebih kecil, kata negeri di atas diganti dengan kata Desa/Kelurahan.

Referensi

  1. UMY Bangun Green Building untuk Penerimaan Mahasiswa Baru, http://www.umy.ac.id/umy-bangun-geen-building-untuk-penerimaan-mahasiswa-baru.html
  2. Siaran Pers Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri Tahun 2019, http://www.um.ac.id/content/page/7/2018/10/siaran-pers-seleksi-masuk-perguruan-tinggi-negeri-tahun-2019